Pura Dalem Solo Banjar Aseman Sedang Abian Semal, Badung
Pura Dalem Solo terletak di Banjar Aseman Desa Sedang Kecamatan Abian Semal, Badung in merupakan salah satu Pura yang termasuk ke dalam Cagar Budaya. Meski sampai saat kini sejarah pura ini masih di gali, namun pura tersebut sempat di singgung dalam Lontar Tatwa Catur Bhumi.
Dalam lotar yang di alih aksarakan oleh I Nyoman Sukasada tersebut keberadaan Pura Dalem Solo di duga kuat sebagai salah satu stana Ida Ratu Sakti. Dalam lontar tersebut di sebutkan bahwa salah satu keturunan dari Majalangu atau Majapahit bergelar Ida Ratu Sakti bersama permaisuri Ida Ratu Ayu Mas Mecaling. Keduanya mendalami tattwa kadyatmikan serta rajin melaksanakan Yoga Samadhi. Ida Ratu Sakti menjalankan ajaran Dharma, sedangkan Ida Ayu Mas Mecaling mendalami kawisesan atau kesaktian, khususnya aji wegig,
Suatu hari keduanya bertolak dari Majelangu diiringi para arya dan sejumlah prajurit menuju Nusa Penida. Di tepi pulau Nusa Penida, kemudian mencari tempat Yoga Samadhi. Tak lama kemudian, mereka bisa menemukan tempat suci dan bersiap melakukan pemujaan terhadap Tuhan. Tempat tersebut bernama Puncak Mundi.
Di sana kemudian mereka membangun pasraman dan beryoga di atas batu besar.
Kira kira enam sasih ( enam bulan ) beliau berdiam di Puncak Mundi. Kemudian beliau bertolak menuju pantai dan tiba di Desa Munduk Bias. Sesampainya di sana di sambut oleh seluruh penduduk setempat, terutama Ki Bendesa Ngemban salaku pucuk pemimpin desa. Setelah sekian lama disana di buatkan puri oleh penduduk setempat dan di buatkan pemerajan sebagai tempat Ida Ratu Sakti melaksanakan yoga, sehingga disebut Pemrajan Dalem.
Setelah sekian lama berdiam di Puri Munduk Biyas, timbulah keinginan Beliau menuju Pulau Bali, karena sesuai petunjuk yang didapatkan ketika menjalani yoga, banyak tempat suci di bali yang bisa di gunakan sebagai tempat beryoga.
Keingingan tersebut, oleh Ida Ratu disampaikan ke sang Istri, namun Ida Ratu Ayu Mas Mecaling tidak diijinkan ikut ke Bali dan agar tetap berdiam di Puri di dampingi abdi dua orang bernama Ki Lenjar dan Ki Lenjir.
Singkat cerita, Ida Ratu sampai di Bali diiringi para Arya Majalangu dan Ki Bendesa, lanjut mendirikan pasraman munduk Guling. Setelah sekian lama di Munduk Guling Beliau bertolak mencari tempat menuju arah barat laut hingga tiba di Pallawa Gambira (daerah Klungkung). Pergi darisana tibalah Beliau di tengah hutan yang ramai binantangnya. Ketika disana, banyak arya yang mengabdi pada Beliau, seperti Arya Sentong, Jelantik, Wang Bang, serta keturunan Dukuh Jumpugan yang membuat tempat tinggal, bekerja keras dan menanam palawija untuk untuk penghidupan. Sebagai tempat tinggal Ida Ratu Sakti dibangunkan puri dan pemerajan yang di namakan "Puri Dalem Sala".
Bertolak dari tempat tersebut beliau tinggal di persawahan yang banyak menjangan , sehingga di berinama Tinjak Menjangan. Di tempat tersebut Ida Ratu Sakti melaksanakan Yoga Samadhi, di atas batu berbentuk gepeng, sementara Arya Sentong beryoga di dekat saluran irigasi, Sedangkan Ki Bendesa menuju barat daya, si tengah hutan yang di huni banyak kera. Semuanya menyatukan pikiran, memohon anugrah Tuhan
Kemudian Arya Sentong tiba di sebuah tempat yang memiliki pembatas air atau bendungan. Di tempat tersebut ditemukan bambu kuning. Di sebelah bambu kuning tersebut Beliau melaksanakan Yoga Samadhi. Tak terhitung berapa hari Beliau beryoga disana hingga selesai. Beliau kemudian kembali ke tempat Ida Ratu Sakti dan menyampaiakan bahwa dirinya mendapat anugrah.
Saat itu Ida Ratu Sakti memberikan anugrah pula kepada Arya Sentong dan mengganti namanya menjadi I Gusti Ngurah Pacung karena mendapa keris Ki Bendung, yang kemudian terkenal bernama Ki Gusti Ngurah Pacung.
Demikian pula Ki Bendesa menyampaikan mendapat anugrah, menemukan sebuah tempat seperti puri yang sangat sepi dan di beri petunjuk agar pergi dari sana. Tempat tersebut kemudian dinamakan Keraton/ Kedaton saat ini. Semenjak itu Ki Bendesa di ganti namanya menjadi Ki Bendesa Sabeng Puri.
Ida Ratu Sakti di tempat tersebut kemudian mengumpulkan batu yang digunakan sebagai tempat tinggal dan membangun pura bernama Pura Paruman. Pergi dari Pura Paruman lanjut ke barat laut, ada sebuah sumur yang airnya sangat suci. Di tempat tersebut beliau bertapa, batu tempat beliau duduk digunakan untuk menutup sumur, sehingga tempat tersebut bernama Pura Pusering Tasik. Dari Pusering Tasik , kemudian beliau menuju ke utara dan tiba di pedesaan yang ditumbuhi cempaka putih. Disana Beliau beristirahat dan beryoga. Tempat tersebut bernama Jemeng, Pinge , Tuwa.
Bertolak dari sana menuju Sarwa Nadi, Tegeh, Angsri, Gunung Lebah, Penataran, Pucak Asah. Disana tumbuh pohon mangga. Hutan tersebut dinamakan alas poh (hutan mangga). Di dekat tempat itu beliau membuat permandian dinamakan Beji Tamansari. Di tempat tersebut beliau memiliki batu untuk membersihkan diri yang berwarna hitam sebagian, merah sebagian, dinamakan Batu Sliwah, banyak manfaatnya.
Diceritakan pula di Puri Dalem Sala, merebak hama atau wabah yang merusak sawah, tegalan, hingga sungai. Tempat tersebut kemudian di tumbuhi pohon menjalar, sehigga dinamakan Alas Bun. Oleh karena itu, Ida Ratu Sakti tinggal ldi Bukit Asah kemudian diiringi menuju Alas Bun. Semua penduduk mengaturkan sembah, segala macam makanan dan canang. Usai beliau melaksanakan Yoga Samadhi, bertapa dan mempersembahkan upakara Penangluk Merana ( penolak bala), serta memperbaiki puri dan palinggih. Beliau tinggal di tempat tersebut cukup lama dan didampingi seluruh penduduk, sehingga tempat tersebut kembali subur, damai. Semuanya hormat kepada Beliau.
Saat Ida Ratu Sakti Melaksanakan Yadnya, Ida Dalem Majapahit memerintahkan Ida Dalem Jawa yang tinggal di Dalem Solo. Anak dari Dalem Solo, lanjut memerintah Pulau Bali. Ternyata anak dari Dalem Solo lahir kembar buncing ( kembar putra putri ), kemudian diiringi I Rare Cili, Ki Janggal mangsa, Ki Grombong Selem, Ki Macan Gading, Ki Tungtung Tangis, Bhuta Blego, Ratu Gede Bhima, Ki Jaran Ngongklang, itulah yang mengiringi Dalem Solo.
Nyoman Sukadana berpendapat Pura Dalem Solo diduga kuat dahulu bernama Puri Dalem Sala,namun seiring jaman penyebutannya berubah menjadi Pura Dalem Solo. Termasuk berkaitan dengan keturunan Dalem Solo yang memerintah Bali Saat itu.
Pujawali di Pura Dalem Solo bertepatan dengan rahina Pagerwesi. Mengenai usia pura yang kini temasuk kedalam Pura Khayangan Jagat tersebut, Ketua PHDI Badung tidak dapat memastikan. Namun karena disana terdapat sebuah candi, di perkirakan sudah ada sejak abad ke-14.
Sumber : web resmi Desa Sedang Abiansemal


0 Response to "Pura Dalem Solo Banjar Aseman Sedang Abian Semal, Badung"
Posting Komentar