Cerita Calon Arang: Misteri Tersembunyi di Balik Warisan Budaya Bali

Foto : FB Calonarang Gianyar 


Cerita Calon Arang masih menyimpan banyak misteri yang mengundang rasa ingin tahu. Kaitannya yang kuat dengan budaya Bali menjadikannya bagian tak terpisahkan dari warisan tradisional yang mendalam.  serat Calon Arang tetap menjadi teka-teki yang menarik untuk dipecahkan. Meski masih berselimut abu-abu, pendekatan analitis mungkin bisa membawa kita lebih dekat pada kebenaran yang tersembunyi dalam cerita ini. Di tengah kekaburan ini, perbandingan dengan cerita serupa di Bali bisa memberikan cahaya baru yang mengungkap sisi-sisi tak terduga dari cerita ini.

Sisi Lain Cerita Calonarang Sumber : Wikipedia

Dalam kekayaan cerita rakyat Bali, kisah hidup Mahendradatta menonjol dengan erat kaitannya dengan mitologi Bali yang mencakup tokoh Rangda. Menurut legenda, kisah ini berawal dari sang ratu yang terkutuk dan diasingkan oleh sang raja karena dituduh mempraktikkan sihir dan ilmu hitam. Setelah menjadi janda, dengan luka dan penolakan yang mendalam, dia membawa dendam kepada istana bekas suaminya dan seluruh kerajaannya. Dengan kekuatan roh jahat, leyak, dan iblis yang dipanggil dari hutan, dia menyebabkan wabah dan kematian melanda kerajaan. Dendamnya terus berkobar, memakan setengah kerajaan dengan wabah sebelum akhirnya diatasi oleh tangan orang-orang suci.

Dalam cerita yang mencirikan citranya yang tampaknya buruk, Mahendradatta mungkin mencerminkan kehidupan nyatanya, di mana pernikahannya berlangsung dengan masalah. Tampaknya, aspek politik di pengadilan Bali juga memainkan peran dalam cerita ini, mungkin untuk mendiskreditkan ratu asing Jawa yang memiliki kekuasaan. Pernikahannya yang rumit mungkin telah melawan pemerintahan Bali Warmadewa dan bahkan suaminya sendiri.

Dalam aspek agama, Mahendradatta dikenang karena pengabdiannya pada Dewi Durga. Ia dianggap sebagai orang yang membawa aliran keagamaan Durga dari Jawa ke Bali. Walau Durga biasanya dianggap sebagai pendamping Dewa Siwa, dalam tradisi Bali dan Jawa kuno, Durga digambarkan dengan karakter yang kuat dan sengit, berbeda dengan shakti atau dewi lainnya, seperti Lakshmi, permaisuri Dewa Wisnu yang lembut. Kultus Durga secara tradisional terkait dengan pengorbanan, ilmu hitam, dan sihir. Hal ini menyebabkan citranya yang kontroversial, yang kemudian terhubung dengan tokoh Rangda, penyihir jahat dalam mitologi Bali.

Setelah kematiannya pada tahun 1011 M, Mahendradatta diangkat menjadi dewi dan digambarkan sebagai Durga Mahisashuramardini, yakni Durga yang membunuh setan-Banteng. Tempat peristirahatannya berada dalam kompleks Pura Bukit Dharma Kutri, di desa Buruan, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Pada kompleks Pura ini, terdapat sejumlah patung Hindu-Budha yang berasal dari abad ke-10 hingga ke-13 M. Patung-patung ini mencakup Amoghapasa, Ganesha, Bhatara, Durga Mahisasuramardhini, dan Buddha, memancarkan kekayaan warisan seni dan spiritualitas zaman dahulu. 

Menurut saya pribadi cerita ini mungkin yang paling cocok jika kita hubungkan dengan calonarang dimana di Bali, Tarian Calonarang yang sakral biasanya akan di barengi dengan pertunjukan Tarian/ Arja yang bercerita tentang kisah tokok Sri Gunapriya Dharmapatni atau Ratu Mahendradata. Dan jika di hubungkan dengan tokoh Rangda dimana Rangda ialah seorang janda dari keluarga raja dan pendeta sangat masuk akal dengan cerita di atas. Dan beberapa wilayah di bali seperti Desa Kediri dan Banjar kahuripan memiliki budaya yang kental dengan pergelaran calonarang yang di sakralkan

Cerita Umum dari Serat Calonarang 

Pada masa pemerintahan Raja Airlangga (1006-1042 M), wilayah Jawa Timur dijejali sejarah yang memikat. Tahun 1021, Prasasti Pucangan (Calcutta) mengungkapkan bahwa Raja Airlangga memerintah, namun pusat kerajaannya berpindah-pindah karena ancaman musuh. Dalam perjalanan, Prasasti Terep (1032 M) mencatat kejadian ketika Raja Airlangga terpaksa melarikan diri dari istananya di Watan Mas menuju Patakan akibat serangan lawan. Tak terekam secara eksplisit bahwa keraton Airlangga berada di Daha atau Kediri, namun naskah Calon Arang menghubungkan keraton Airlangga dengan Daha (Kediri).

Dalam era Airlangga, agama Budha berkembang. Diantara aliran-aliran dalam agama ini, terdapat Sekte Tantrayana yang mengajarkan jalan pintas menuju moksa. Upacara-upacara mengerikan dilakukan, termasuk menari di atas kuburan dengan iringan musik khas dan mengonsumsi darah serta daging mayat pada malam hari. Hal ini tampaknya mengejar tujuan spiritual, bukanlah upaya jahat.

Ringkasan Cerita

Mitos ini terdiri dari dua bagian: pertama tentang Calon Arang, dan kedua mengenai pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada kedua puteranya.

Di desa Girah, hiduplah seorang janda kuat bernama Calon Arang beserta putrinya yang sudah dewasa, Ratna Manggali. Karena ketakutan masyarakat, tak seorang pun berani melamar Ratna Manggali. Menyadari ini, Calon Arang marah dan mengutuk warganya sebagai hukuman. Dalam amarahnya, ia melaksanakan upacara mengerikan di kuburan sambil mengadakan persembahan. Dewi Bhagawati (mungkin Dewi Durga) menjawab panggilan Calon Arang dan menyebabkan wabah. Raja Airlangga merasa prihatin dan berusaha mencari solusi.

Raja mengirim pasukan untuk membunuh Calon Arang, tetapi upaya ini gagal karena sang janda memiliki kekuatan magis. Calon Arang semakin marah dan menerapkan tenung yang lebih kuat, memakan banyak korban. Raja dan para resi berdoa untuk bantuan. Hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis yang memiliki keahlian untuk mengatasi situasi ini. Raja meminta bantuan Mpu Bharadah, yang mengirim muridnya, Bahula, untuk melamar Ratna Manggali. Keduanya menikah, dan Bahula diharapkan dapat memahami situasi ini lebih dalam.

Mpu Bharadah menyelidiki Calon Arang, menghadapinya, dan berusaha meredam kemarahannya. Terjadilah pertarungan magis, di mana akhirnya Calon Arang tewas. Sebelum meninggal, Calon Arang diajari ajaran yang membawa kebaikan dan kesucian. Setelahnya, Bharadah membina murid-murid Calon Arang. Kisah ini menggambarkan bagaimana pertarungan antara kegelapan dan kebaikan, serta keberanian untuk menghadapinya demi kesejahteraan masyarakat.


.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Calon Arang: Misteri Tersembunyi di Balik Warisan Budaya Bali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel