Mengungkap Keajaiban Pura Kehen di Bangli: Wisata Sejarah dan Spiritual di Bali
Saat merencanakan liburan di pulau Dewata Bali, Anda
akan merasakan lebih dari sekadar keindahan alamnya yang menakjubkan, mulai
dari pantai-pantai yang menawan hingga sawah terasering yang mengagumkan. Tidak
hanya itu, Bali juga menyajikan beragam objek wisata, termasuk tempat-tempat
suci yang sarat akan makna spiritual.
![]() |
| Pura Kehen Bangli Foto by Yuksmelali.blogspot |
Di antara sekian banyak pura yang menjadi tujuan wisata populer di Bali seperti Pura Besakih, Pura Uluwatu, dan Pura Lempuyang, terdapat juga Pura Kehen yang berlokasi di Bangli. Pura Kehen tidak hanya menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, melainkan juga destinasi wisata yang menarik minat para pengunjung dengan keindahan dan sejarahnya yang unik.
Pura Kehen, sebagai salah satu peninggalan budaya Bali
kuno, menjadi saksi bisu zaman yang telah berlalu. Pura ini tidak hanya menjadi
tempat beribadah bagi umat Hindu, tetapi juga tempat yang memukau dan menjadi
destinasi unggulan bagi para wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang mendalam.
Kabupaten Bangli sendiri memiliki banyak daya tarik
wisata lainnya, seperti Kintamani dengan pemandangan Danau dan Gunung Batur
yang memukau, air terjun Dusun Kuning yang menakjubkan, Tukad Cepung yang
menawarkan keindahan alami yang memesona, serta desa-desa seperti Trunyan dan
Penglipuran yang memiliki pesona budaya dan alam yang khas.
Sejarah Pura Kehen di Bangli:
Mengupas kisah lama Pura Kehen di Bangli menjadi tantangan yang
menarik, seolah merayapi lorong waktu yang tak pasti. Tiga prasasti tembaga
menjadi petunjuk, menggambarkan keberadaan pura ini dalam riwayat. Salah
satunya adalah prasasti ketiga, merinci arahan-upacara untuk warga sekitar,
tertanggal Saka 1126 (1204 Masehi). Dalam prasasti ini, muncul nama Raja Sri
Dhanadhiraja, putra Raja Bhatara Parameswara, dan cucu Bhatara Guru Sri
Adhikunti bersama Bhatara Sri Dhanadewi. Prasasti pertama, berbahasa Bali Kuno,
menyebut "Hyang Karinama" dan diperkirakan terjadi sekitar tahun
804-836 Saka (882-914 Masehi). Prasasti kedua berbahasa Jawa Kuno, menyinggung
Senapati Kuturan, Sapatha, dan pegawai raja, kira-kira tahun 938-971 Saka
(1016-1049 Masehi).
Nama "Hyang Api" dalam prasasti pertama berganti menjadi
"Hyang Kehen" di prasasti ketiga dan akhirnya menjadi Pura Kehen. Ini
mengindikasikan kehadiran Pura Kehen antara 804-836 Saka (882-914 Masehi). Pura
ini telah ada menjelang akhir abad IX atau awal abad X Masehi. Prasasti No. 705
Prasasti Pura Kehen C menegaskan keterkaitan Pura Kehen dengan sejarah Desa
Bangli.
Seiring perjalanannya dalam sejarah, desa, banjar, dan Pura di wilayah
Desa Bangli menyatu dalam konsep Gebog Domas. Konsep ini mempersatukan seluruh
desa dan banjar dalam tanggung jawab terhadap Pura Kehen, krama, dan lingkungan
di Desa Bangli. Konsep serupa berlaku untuk desa-desa luar Gebog Domas, dengan
istilah "Bebanuan Pura Kehen". Ini meliputi Banjar Blungbang, Banjar
Pule, Banjar Kawan, hingga Banjar Sidembunut.
Gebog Domas dan Bebanuan Pura Kehen menjadi simbol persatuan,
menggambarkan bahwa semua banjar di wilayah Desa Bangli adalah satu kesatuan
yang unik. Semangat kebersamaan dan harmoni turun-temurun memberi warna pada
setiap aktivitas yang berkaitan dengan Pura Kehen. Tanggung jawab dan kewajiban
masing-masing bagian dijalankan dengan semangat.
Mengutip penuturan Jero Gede Kehen dan penglingsir Puri Agung Anak
Agung Gede Bagus Ardhana, pada era kerajaan, Bebanuan mendapat dukungan moral
dan materi dari puri atau raja untuk penyelenggaraan upacara di Pura Kehen.
Meski zaman kerajaan telah berlalu, spirit pengayoman dan dukungan kini
diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli. (Sumber : Wikipedia )
Ritual Agung dan Keharmonisan di Pura Kehen Bangli
Setiap pura di Bali menggenggam kehidupan dalam ritme upacara
agama yang khas. Begitu pun Pura Kehen, yang menjalani serangkaian persembahan
dengan tempo yang terasa luar biasa. Pujawali atau odalan di Pura Kehen
dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, sesuai dengan kalender Hindu, dan ini
terjadi saat Hari Raya Pagerwesi. Sebuah momen sakral yang merayakan esensi
keberadaan pura.
Namun, tak hanya sekadar itu. Pada interval 3 tahun, dengan tepat
saat Purnama sasih Kelima, Saniscara Pon Sinta, upacara Ngusaba Dewa digelar.
Momentous ini juga dikenal sebagai Karya Agung Bhatara Turun Kabeh, sebuah
persembahan besar untuk Sang Pencipta.
Tak hanya pujawali dan Ngusaba Dewa, hari-hari suci yang lain
turut dirayakan di Pura Kehen. Hari Saraswati, Kajeng Kliwon, Tilem, Purnama,
Sugimanik, dan Buda Kliwon menjadi pijakan bagi upacara kecil. Dalam setiap
detik waktu, warga dan peziarah berdatangan untuk bersembahyang, mengisi ruang
suci dengan doa dan penghormatan.
Dalam harmoni ini, Pura Kehen tak hanya menjadi saksi bisu
sejarah, tetapi juga tempat di mana jalinan spiritual dan budaya menyatu.
Sebuah perjalanan ruhani yang membuka pintu bagi siapa pun yang ingin merasakan
kedamaian dalam gemuruh tradisi.
Melangkah Menuju Keagungan Pura Kehen Bangli
Jika liburan mengajak Anda ke pulau Dewata Bali dan rencananya menghadirkan kunjungan ke Pura Kehen Bangli, jangan ragu untuk menjadwalkan petualangan ini. Anda memiliki beragam pilihan, mulai dari menyewa mobil dengan sopir yang ahli atau mengeksplorasi sendiri dengan mobil sewaan. Jika berangkat dari wilayah Bali Selatan seperti Kuta atau Denpasar, arahkan langkah menuju kota Gianyar. Dari Denpasar, jaraknya sekitar 43 km dan memerlukan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam.
Setibanya di kota Bangli, Anda akan memasuki jalur utama yang
mengarah ke tujuan akhir, Pura Kehen. Setelah melewati kota Bangli sekitar 2
km, Anda akan menemukan pertigaan. Pilih belok kanan yang menunjukkan arah Pura
Kehen atau belok kiri jika ingin menuju objek wisata desa Penglipuran. Dari
sana, hanya diperlukan perjalanan sekitar 500 meter lagi, dan Anda akan tiba di
tempat parkir Pura Kehen.
Terletak di tepian jalan, Pura Kehen memukau dengan posisinya yang
sedikit lebih tinggi dari jalan raya. Pemandangan megah, indah, dan mempesona
terhampar di depan mata, lengkap dengan tangga-tangga berundak yang mengarah ke
area utama pura. Kesenangan fotografi semakin ditingkatkan dengan momen yang
tepat untuk menangkap keindahan Pura Kehen dari berbagai sudut.
Namun, Pura Kehen bukan hanya tentang visual semata. Setiap saat
adalah saat yang tepat bagi para wisatawan untuk merasakan kenyamanan
spiritual. Anda bisa datang pada hari-hari suci dalam kalender agama Hindu,
seperti saat purnama atau Hari Saraswati, dan menyaksikan warga setempat dalam
momen persembahyangan.
Bagi yang menginginkan pengalaman lebih meriah, jangan lewatkan
saat Hari Raya Pagerwesi. Pada hari tersebut, Pura Kehen akan menjadi puncak
upacara besar yang dikenal sebagai piodalan. Saat ini, tempat ini akan dipadati
oleh umat yang datang untuk berpartisipasi dalam perayaan yang meriah.
Keindahan dan daya tarik Pura Kehen telah memikat banyak
wisatawan. Karena itu, berbagai fasilitas telah dibangun di sekitar area ini
untuk memastikan kenyamanan pengunjung. Toilet, lahan parkir, toko-toko suvenir,
dan warung-warung makanan siap menyambut Anda. Keuntungan lainnya, Pura Kehen
juga berdekatan dengan beberapa objek wisata menarik lainnya seperti desa
Penglipuran dan Kintamani. Jadi, Anda dapat dengan mudah merencanakan tur di
sekitar Bali dengan Pura Kehen sebagai pusat petualangan spiritual dan budaya
Anda.
Harga Tiket Masuk Pura Kehen ;
untuk wisatawan domestik (WNI) adalah Rp 15.000 per orang.
untuk wisatawan asing (WNA) adalah Rp 50.000 per orang.
Anak di bawah 6 tahun bisa masuk secara gratis
Sebagai tamu yang menghormati tempat suci, ada beberapa aturan yang penting untuk diikuti saat memasuki kawasan Pura di Bali:
1. Pentingnya Kehormatan: Untuk wanita yang sedang mengalami
menstruasi, dianjurkan untuk tidak memasuki area Pura. Ini adalah sebuah
penghormatan terhadap keberadaan dan nilai-nilai spiritual tempat suci ini.
2.Pentingnya Penghormatan: Menaingi patung atau pelinggih yang ada
di Pura adalah tindakan yang dihindari. Sebagai gantinya, nikmati keindahan dan
keagungan mereka dari jarak yang sesuai.
3. Pentingnya Etika: Bahasa yang sopan dan hormat adalah hal yang
dijunjung tinggi di tempat suci ini. Hindari menggunakan kata-kata kasar atau
merendahkan, dan jaga kesantunan dalam komunikasi.
4. Pentingnya Ketaatan: Setiap Pura memiliki aturan dan tata
tertibnya sendiri. Pastikan untuk mengikuti petunjuk dan norma-norma yang
berlaku di Pura Kehen, serta menjaga ketenangan dan kebersihan lingkungan
sekitar.
Dengan menghormati peraturan ini, Anda bukan hanya menjaga
keramahan spiritual tempat ini, tetapi juga mendukung keberlanjutan dan
keaslian budaya Bali. Sebuah perjalanan ke Pura Kehen adalah lebih dari sekadar
wisata, tetapi pengalaman yang memperkaya jiwa dan pikiran.

0 Response to "Mengungkap Keajaiban Pura Kehen di Bangli: Wisata Sejarah dan Spiritual di Bali"
Posting Komentar